Kamis, 02 Mei 2013

Resensi Novel : Moga Bunda Disayang Allah

 

MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH

 


Judul Buku  : Moga Bunda Disayang Allah
Genre          : Novel
Pengarang   : Tere Liye
Tahun Terbit : Cet. 1 Jakarta : Penerbit Republika 2006 (Cet. 3 2007)
Fisik Buku    : 247 hlm 205 cm
ISBN            :978-979-321-079-6
Tanggal Baca : Tahun 2010
Nilai               : 7/10

 

Bisa dibilang, ini adalah buku pertama yang saya punya dari penulis bernama pena Tere Liye. Buku yang mengantarkan saya kepada beberapa karya besar Tere Liye seperti : Hapalan Sholat Delisa, Negeri para bedebah, dan karya besar lainnya. Bahkan Tere Liye pun merupakan salah satu penulis Indonesia favorit saya.

Buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Melati yang terlahir sangat lucu menggemaskan, rambut ikalnya mengombak, pipinya tembam, matanya hitam dan giginya kecil seperti gigi kelinci. Dia adalah anak seorang terpandang di daerah tersebut. Keluarganya sangat menyayangi Melati. Namun, Melati tiba-tiba mulai mengalami Buta dan Tuli sebelum anak itu sempat mengenal benda, mengenal dunia, mengenal kata-kata bahkan belum mengenal Penciptanya.

Perjuangan Melati pun dimulai setelah Bundanya menemukan seorang pemuda bernama Karang. Karang merupakan pemuda yang hidupnya tidak teratur, bahkan tidak mempunyai background dalam pendidikan. Namun dia memiliki sesuatu yang bahkan tidak setiap orang punya. Dalam buku ini, Karang diceritakan mampu merasakan perasaan anak-anak yang berdiri di depannnya. Dia juga pandai menyenangkan anak-anak, Karang mampu berempati dengan sangat dalam pada apa yang dirasakan Melati. Melati hanya melihat gelap, hitam kosong tanpa warna. Melati hanya mendengar senyap sepi, tak ada nada.

Perjuangan belajar seorang melati yang mengalami buta tuli ini tidak mudah. Beruntung, meskipun Karang mengajar dengan sangat keras, Melati akhirnya bisa belajar dengan caranya sendiri. Dalam buku ini, kita kembali diceritakan mengenai kisah masa lalu Karang yang sebenarnya adalah pencinta anak-anak, ia memiliki ratusan buku taman bacaan di ibukota. Suatu ketika Ia mengalami kecelakaan di laut hingga menewaskan 18 orang dan juga Qintan murid kesayangannya. Perasaan bersalah itu menjadikannya hancur, menjadi pemabuk, hidup di malam hari, kehidupannya benar-benar hancur.

Secara keseluruhan, buku ini cukup bagus, mungkin dari segi bahasa memang cukup sulit dipahami, karena penuh dengan bahasa yang tidak baku. Namun ending buku ini juga sangat mengharukan. Dimana akhirnya Melati, mengenal siapa penciptanya sesungguhnya, yaitu Allah. Kalau kalian mengaku sayang sama bunda kalian, coba baca buku ini. Oh iya, kabarnya Novel ini akan segera difilmkan loh. Jadi tak sabar untuk menunggu filmnya. Kira-kira siapakah yang akan memerankan tokoh Karang nanti??

 









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar